Warisanbudayanusantara.com – Pakaian adat Tidung ini merupakan identitas dari suku Tidung yang diakui sebagai pakaian adat asli Tarakan. Dikutip dari buku 'Pakaian Adat sebagai Rekonstruksi Identitas Etnis Identitas Suku Tidung Ulun Pagun' yang ditulis oleh Neni Puji Nur Rahmawati dan Septi Dhanik Prastiwi, Suku Tidung lebih dikenal dengan sebutan suku Dayak yang telah menjadi suku Muslim dari suku Tidung, terdapat kelompok masyarakat yang mengidentifikasikan diri sebagai bukan Dayak dan menamakan dirinya Tidung Ulun Pagun dikenal karena Suku Tidung beragama Islam dan hidup dengan budaya pesisir.

Suku Tidung Ulun Pagun juga memiliki identitas lain yang mengacu pada konteks budaya, yaitu melalui pakaian adat Tidung. Pakaian adat yang terdiri dari Pelimbangan dan Kurung Bantut (pakaian sehari-hari), selampoy (pakaian adat), Talulandom (pakaian resmi), dan Sina Beranti (pakaian pengantin. Pakaian adat ini telah menjadi karya budaya Suku Tidung Ulun Pagun melalui proses rekonstruksi berbasis Data Pakaian Adat Tidung di Masa Lalu Proses rekonstruksi pakaian adat sebagai identitas etnik Suku Tidung Ulun Pagun menemukan momen yang tepat seiring dengan perubahan status Tarakan dari kota administratif menjadi kotamadya di mana pakaian itu nantinya. # 39; diakui & # 39; sebagai pakaian daerah kota Tarakan.

Dalam sejarah pakaian ini merupakan perkembangan dari pakaian keluarga kerajaan Bulungan Inter Kesuma. Pakaian ini merupakan salah satu pakaian yang dikenal masyarakat Bulungan, yang digunakan pada saat ada acara perkawinan atau perkawinan. Hingga saat ini pakaian tersebut masih lestari dan dipakai oleh masyarakat khususnya masyarakat Suku Bulungan; terlebih lagi oleh kerabat Kesultanan Bulungan. Pakaian Inter Kesuma memiliki 2 jenis sesuai dengan status pemakainya yaitu pakaian dominan berwarna kuning atau kuning utuh untuk dipakai oleh anak-anak dan kerabat Kesultanan Bulungan, sedangkan pakaian kuning dipadukan dengan warna merah untuk rakyat biasa.

Pakaian ini pertama kali dibuat oleh Kesultanan oleh Sultan Alimuddin I pada tahun 1878-1917, dalam keadaan belum sempurna. Namun seiring dengan perkembangan pakaian ini, berubah sesuai dengan zaman Sultan Kaharuddin II yang memerintah pada tahun 1876-1889. Lebih banyak perubahan pada aksesoris yang digunakan. Kondisi karya budaya masih bertahan karena masih terpeliharanya nilai-nilai budaya Keraton Kesultanan. Ritual menggunakan Inter Kesuma secara dinamis dan kontekstual dalam ritual siklus kehidupan. Kepribadian ini lebih banyak dilakukan melalui jaringan komunikasi untuk mempromosikan budaya Kesultanan Bulungan. Biasanya busana ini dipakai pada pengantin keraton di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara.

1. ^ Dwiari Ratnawati, Lien (2018). Pembentukan Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Penulis Martin | redpel ndra