Ada Bhujuk (Buyut) yang terletak di daerah pantai yang terletak di Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, yang disebut Bhujuk Makam Zimat. Untuk mencapai Bhujuk Makam Zimat dari pusat kota Bangkalan, pergilah ke arah Bangkalan di utara dengan perjalanan sekitar 40 km. Dengan Google Maps, cukup tulis Bhujuk Makus Zimat Banyusangka, maka kita akan diarahkan ke tujuan.

Dari namanya, banyak orang bertanya-tanya mengapa Bhujuk ini disebut Bhujuk Makam Zimat? Melakukan wawancara tentang Bhujuk Makam Zimat, sebelum juru kunci meninggal, yaitu Nyai H. Kutsiyah. Dari data saya data, Bhujuk awalnya bernama Sayyid Hosen Assegaf. Dia adalah putra Raden Maulana Makhdum Ibrahim dan istrinya, Ny. Syarifah Fatimatus Azzuhro Assegaf. Dia memiliki banyak pengikut karena pengetahuannya yang tinggi dan moralitas yang baik. Dengan begitu ia tidak dapat dipisahkan dari beberapa orang yang membencinya karena cemburu pada posisinya di masyarakat. Hingga suatu hari, ada seseorang yang cemburu dan kemudian mengatakan kepada raja Bangkalan bahwa ia ingin menggulingkan kekuasaannya. Kemudian raja mengirim tentaranya untuk membunuh Sayyid Hosen Assegaf di kediamannya.

Tampak Samping Dari Barat.

Ketika Sayyid Hosen Assegaf meninggal, tepatnya di desa Jaddih Bangkalan, ibunya sedih dan meminta penduduk dan tentara untuk melakukan pemakaman. Pada saat pemakaman terjadi bencana. Di galian pertama, darah keluar dari galian, di galian kedua batu keluar, dan dalam proses penggalian ketiga berbagai jenis tanah campuran keluar. Kecelakaan itu terjadi, ibunya menjadi sedih ketika dia mendengar informasi itu. Kemudian salah satu tentara, Sayyid Hosen Assegaf, datang ke keluarga, mengatakan bahwa sebelum dia meninggal, ada seseorang yang mengatakan bahwa ketika dia meninggal dia harus dimakamkan di daerah pantai utara Bangkalan.

Kemudian pengawalan berangkat ke daerah pesisir utara Bangkalan. Pada setiap perjalanan ketika mereka menemukan desa, konveyor berhenti untuk melakukan proses penggalian. Namun, setiap penggalian terjadi seperti di desa Jaddih. Berbagai desa telah dilintasi dan akhirnya menemukan desa yang dekat dengan pantai, kemudian dilakukan proses penggalian. Namun, ketika proses penggalian kuburan ada satu orang menemukan kuburan yang telah digali tanpa ada yang tahu siapa yang menggali kuburan.

Sekitar jarak 500 meter dari pemakaman, ibunya menangis dengan menyebutkan nama Sayyid Hosen di akhir hidupnya sebagai Ziimat Hosen, dan berdoa, "Semoga beruntung di alam dan diangkat sebagai umat Nabi Muhammad, hai putra."

Tampilan Luar.

Jadi, Bhujuk disebut Bhujuk Makam Zimat karena tangisan ibunya yang disebut Sayyid Hosen Assegaf selama proses pemakaman sebagai Zimat Hosen. Dan bhujuk ini ditempatkan di daerah pantai utara Bangkalan, karena di masa lalu ia sering menyebarkan Islam di daerah ini.

Setiap Jumat malam, banyak orang datang ke sini untuk berziarah baik dari desa maupun di luar desa. Selain Jumat malam, setiap malam ada beberapa orang yang datang mengunjungi ziarah, dan setiap minggu dan rangkaian ada sejumlah pelancong yang datang ke bhujuk ini.

Dengan datang ke Bhujuk Makam Zimat, selain naik haji Anda juga dapat menikmati pemandangan pantai dan membeli ikan laut segar dari hasil tangkapan nelayan, karena mayoritas penduduk di Desa Panyusangka berprofesi sebagai nelayan.

Pos Bhujuk Makam Zimat muncul pertama kali di Travel Blog Indonesia.