Provinsi Banten no
hanya dikenal oleh seni Debus yang telah terkenal di mancanegara.
Banyak harta budaya yang menarik dan unik lainnya. Salah satu kekayaan
budaya adalah kekayaan kuliner tradisional yang disebut Bubur Sop,
yang terutama di Pandeglang.

Bubur Sup
ditemukan di Pandeglang memiliki nama yang sama dengan hidangan khas Kesultanan
Deli. Dari kisah sejarahnya, tradisi berbuka puasa bersama Bubur Sop –
atau disebut juga bubur pedas – telah ada sejak masa Kesultanan
Deli pada tahun 1909 yang kemudian dipimpin oleh Tuanku Sultan Makmun Al-Rasyid
Alam Shah Perkasa. Bahan dasar sup bubur terdiri dari Kesultanan Deli
dari nasi, daging sapi, dan sayuran seperti kentang dan wortel dan ditambahkan
rempah-rempah sebagai bumbu masakan.

Meskipun tidak ada penelitian
informasi lebih lanjut tentang hubungan dengan Sop Sop Bubur dari warisan budaya Kerajaan Deli dengan
Bubur Sop Pandeglang, kesamaan antara keduanya adalah bahwa mereka sering hadir setiap bulan
Ramadan. Menjelang berbuka puasa, hidangan ini banyak diburu oleh penduduk setempat
sebagai hidangan berbuka puasa.

Sup bubur di Pandeglang memiliki rasa yang enak
berbeda dengan Sup Bubur di Kesultanan Deli. Bubur Sop Kesultanan Deli miliki
rasa pedas dipadukan dengan kaldu sapi. Sedangkan Bubur Pandeglang Sop
lebih pekat dan disajikan dengan abon ikan rebus. Wilayah Pandgelang
hidangan yang paling sering ditemukan ini adalah di Kabupaten Labuan, khususnya
wilayah Kampung Sawah, Masjid Kampung, Pangeuseupan, Caringin, dan Cigonda
Carita

Saat ini Bubur Sup Pandeglang juga banyak ditemukan
variasi pada hidangan. Salah satunya adalah tambahan tambahan kerang
dimasak dengan bumbu lainnya. Namun demikian, itu tidak mengubah karakteristik
Soup Bubur itu sendiri.

Artikel Asli: BPNB Jawa Barat

Sumber foto: Tempo

Pos Bubur Sop Pandeglang, hidangan serupa dengan Kesultanan Deli yang muncul selama Ramadhan pertama kali muncul di Budaya Indonesia.