WBN, Dieng, Jawa Tengah – Senin, 12 Oktober 2020 pukul 02.00 tim WBN (Media Heritage Cultural Archipelago) kami tiba di kawasan pegunungan Dieng setelah sebelumnya tim tersebut melakukan perjalanan dari Bandung.

Sesampainya di Dieng kita disuguhkan dengan cuaca Dieng yang dingin yang sudah menjadi makanan khas daerah Dieng. Sebelum beranjak ke Danau Cebong, Tim Cikuning terlebih dahulu mampir di sebuah kedai kopi untuk melakukan pemanasan dengan meminum secangkir kopi dan melahap semangkuk mie rebus dan jagung rebus yang disajikan dari pemilik warung dan mengobrol dengan warga sekitar.

Kemudian Tim bergegas kembali ke Telaga cebong, Desa Si kuning, Kampung Si kuning merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Saat Tim WBN tiba di lokasi parkir Danau Cebong, Tim disambut hangat oleh seorang pria yang berprofesi sebagai pedagang oleh-oleh dan makanan di kawasan Danau Cebong. Pak Akhmad Sohir menyambut Tim WNB sambil ngobrol di tokonya hingga pukul 04.30, Pak Akhmad Sohir mengajak tim untuk mengikuti olahraga menembak matahari terbit (Sun Rise) di puncak Dieng Sikuning, Wonosobo.

Kami dengan senang hati menerima tawaran Pak Akhmad Sohir agar kami bisa melihat indahnya suasana Sunrise di puncak Dieng. Pak Akhmad Sohir dengan sabar dan baik hati membimbing kami, mulai dari kedai kopi hingga kami harus istirahat di pos 1 menjaga puncak Dieng Si kunir.

Perjalanan kami untuk mendaki harus benar-benar hati-hati, karena saat itu cuaca sedang turun sangat pekat, cuaca dingin, licin dan kondisi kami saat itu benar-benar capek karena perjalanan yang kami tempuh cukup lama.

Jalan terjal menanjak sejauh 800 meter dengan berjalan kaki. Dengan rasa cemas, tegang, penat dan takjub akan keindahan jalur, langkah kaki kami terus menaiki anak tangga hingga akhirnya sampai di puncak Dieng. Seluruh mata Tim WBN terbelalak takjub akan keindahan alam sekitar Dieng, rasa lelah dan kantuk yang selama ini menjadi suasana perjalanan harus terbayar setelah tim WBN berada di puncak Dieng dan seluruh. mata tim menyaksikan keindahan matahari terbit seolah matahari muncul saat tirai awan dan kabut dibuka oleh pemilik alam.

Usai Tim menyaksikan Sanrise, Tim ingin mencoba merasakan tenda-tenda di pinggir danau berudu, tempat banyak pengunjung bermalam di tenda-tenda di tepi danau. Dengan bantuan Pak Akhmad Sohir membantu Tim untuk memfasilitasi dan menyediakan tenda bascamp untuk tim WBN. Pukul 11.00 WIB tim rebahan untuk istirahat.

Akhirnya tibalah waktu untuk pergi malam dan suasana dingin mulai menyelimuti seluruh tubuh kita, Waktu terus berjalan menuju malam yang paling kita khawatirkan. Perhatian kami betapa dinginnya malam yang menjadi tantangan bagi pengunjung kawasan Dieng.

Menjelang malam tiba, kami benar-benar merasakan suhu dingin yang bisa menembus kulit hingga ke tulang. Di depan tumpukan kayu yang kami bakar, kami berharap mendapat sedikit kehangatan agar kami bisa tertidur hingga senja.

Keesokan harinya, 13 Oktober 2020, Tim masih berada di tenda bascamp pinggir telaga cebong, Senja mengajak burung berkicau di pepohonan di pinggir telaga dan perbukitan kawasan Dieng, Kami Semua terbangun dengan rasa ingin tahu ingin menikmati secangkir kopi panas dan duduk di pinggir danau sambil menyaksikan kabut yang ada di permukaan danau. Aktivitas kami di siang hari hanya melihat dan mengagumi keindahan kawasan pegunungan Dieng sembari berfoto bidadari hingga sore hari.

Menjelang malam tim adalah waktu yang paling kami khawatirkan, kekhawatiran kami adalah turunnya suhu cuaca hingga di bawah 19 derajat Celcius. Ternyata benar, suhu cuaca malam ini 12 derajat Celcius. Segala sesuatu untuk bisa menghangatkan badan tidak ada gunanya, Mulai dari membuat api unggun, Minum minuman jahe hingga membungkus tubuh dengan sweter berlapis. Udara dingin terus mendorong ke permukaan kulit dan menembus tulang. Adapun yang bisa mengurangi rasa dinginnya adalah kita tidak tertidur, kita hanya bercanda di tenda sampai pagi datang dan berharap ada sinar matahari yang bisa menghangatkan badan.

Saat itu sudah larut pagi dan kami menunggu sinar matahari untuk menghangatkan seluruh tubuh kami.

Setelah kami menikmati bekal makan siang yang telah disediakan pak Ahmad Sohir dan kami sudah mengeringkan semua pakaian kami di bawah terik matahari berpadu dengan dingin dieng dengan harapan pakaian kami bisa menyerap kehangatan sebagai persiapan malam.

Setelah kami makan sepiring nasi dan lauk pauk, kami kembali ke tenda untuk menutup mata karena tadi malam kami tidak tidur karena harus melawan dingin. Dan malam yang akan kita lewati adalah malam yang lain.

Sore hari kami mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk bisa melawan hawa dingin yang pasti akan melukai kulit kami lagi, Ketika waktu baru sebelum jam 18.00 hawa dingin mulai menusuk kulit, Kami sudah menyalakan api dan sambil menikmati secangkir minuman jahe.

Waktu terus berjalan hingga tengah malam, dan akhirnya tim merasa kalah melawan hawa dingin di luar tenda. Begitu juga para pengunjung yang bermalam berkemah di pinggir telaga cebong.

Pagi jam 01 & # 39; 00, 14 Oktober Suhu dingin mencapai 10 derajat Celcius, hawa dingin terus mendorong masuk ke dalam tenda, Kami berusaha keras melawan dingin yang ekstrim, Dan sesekali angin kencang bertiup menerpa tenda bescamp kami, Mendengar itu kali ini terasa dingin terasa sangat dingin. Sweter ganda itu tak mampu menghalau hawa dingin yang semakin dingin di pagi hari. Kami hanya bisa duduk di tenda berusaha keras untuk bertahan dan melawan hawa dingin dengan harapan akan datang pagi.

Akhirnya pagi pun tiba dan tim mulai berbenah untuk melanjutkan perjalanan jurnal perjalanan ke kota selanjutnya.

Dalam perjalanan jurnal untuk kawasan Dieng, Tim WBN mengucapkan terima kasih kepada Bapak Akhmad Sohir yang telah menerima tim WBN dengan baik dan membantu memfasilitasi segala kebutuhan tim WBN selama 3 hari di Dieng.

Tim WBN | penulis Cp.Enjoy. | redpel ndra