Kenali sejarah budidaya paksa di Museum Multatuli

Mengapa museum ini disebut Museum Multatuli?

Karena, nama museum ini diambil dari nama pena seorang Eduard Douwes Dekker. Dia awalnya Asisten Penduduk Lebak yang diangkat pada 1856 selama pemerintahan Belanda.

Saat menjabat sebagai Asisten Residen, ia mulai melihat dan menentang keberadaan sistem penanaman paksa di daerah yang dipimpinnya, yaitu di daerah Lebak. Ketidaksetujuannya dengan sistem ini akhirnya ia tulis ke dalam novel dengan judul Max Havelaar.

Lanjutkan membaca Mengetahui Sejarah Budidaya Paksa di Museum Multatuli di Travel Blog Indonesia.