Sejarah mengatakan, Islam dibawa
ke nusantara oleh pedagang dari Gujarat, India. Karena itu diajarkan di
sekolah kita dulu. Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Itu pada dasarnya pedagang
Muslim secara tidak langsung membuka jalan untuk menyebarkan Islam
di seluruh nusantara.

Pahami siswa
sejarah seperti memasang puzzle. Tidak ada kebenaran tunggal, yaitu
ada kebutuhan untuk melihat lebih dalam melalui kacamata holistik dan mencoba untuk berkumpul
potongan puzzle. Dan secara objektif kita tidak akan menemukan aktor tunggal, karena
memang tidak.

Saat masuknya ajaran Islam menjadi
Nusantatra kita dapat dikatakan memiliki peradaban maju pada saat itu. Karakteristiknya adalah
hubungan diplomatik yang telah terjalin dengan berbagai negara dan komunitasnya
yang terbuka. Kami juga telah melakukan hubungan internasional, dengan Malaka, Cina, India, Champa dan bahkan diduga mencapai
Alexandria. Apalagi dulu ada istilah yang mengatakan negara di luar nusantara
disebut Negara Atas Angin, sedangkan kerajaan di nusantara disebut
dengan Negara Angin Rendah, karena wilayahnya dilintasi oleh angin Muson Barat
dan Muson Timur

Bukti lain menunjukkan itu
kami memiliki kota internasional besar, yang diperlukan
diakui bahwa People Over the Wind menempati posisi strategis dalam pemerintahan
dan tidak sedikit yang bertanggung jawab atas pelabuhan. Ini sudah menjadi
pandangan yang biasa, serta interaksi antara kepercayaan (agama)
dari kedua negara ini. Konon katanya orang Majapahit saat itu
Orang Hindu sering menyebut Islam sebagai agama Dharma baru & # 39 ;. Semua ini seolah-olah
menunjukkan bahwa masuknya Islam ke nusantara dilanjutkan dengan akulturasi
alam.

India-Persia

Islam berkembang di India
oleh orang-orang Persia yang menghindari pengejaran para penguasa Umayyah
dan Abbasyah. Orang Persia kebanyakan dari kelompok Alawiyin
(keturunan nabi Muhammad). Budaya Persia
memasuki India, lalu pedagang Muslim India menyebarkannya ke
Kepulauan.

Pengaruh Persia dan India
terlihat dalam penggunaan kosa kata dan karya sastra. Beberapa contoh
yang paling dikenal adalah kata kandil, astana bandar, diwan , gandum,
tentara, kapten, tamasya, pedagang, pasar, syahbandar, pahlawan, kismis,
anggur, tahta, medan, kata,
dan lain-lain.

Dalam sastra Islam Nusantara,
karya muncul dalam terjemahan seperti Persia Qissa-i-Emir Hamza (Kisah
Amir Hamzah, menceritakan kepahlawanan Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Nabi
Muhammad SAW), Qissah Insyiqaq al-Qamar (Story of the Moon Is Split,
menceritakan mukjizat Nabi Muhammad SAW), Rawdat al-Ahbâb (Hikayat Nur
Muhammad, menceritakan cahaya kenabian yang awalnya diciptakan Allah
Terang-Nya), juga Nameh meninggal (Kisah Kematian Nabi)

Champa

Campa di masa lalu terletak pada
pantai Vietnam. Bersama dengan orang Vietnam, Siang, Khmer dan Mon, ia menjadi bagian darinya
Cina Selatan. Hubungan kerajaan di Champa telah lama terjalin dengan
kerajaan di nusantara. Bahkan tercatat dalam rentang waktu antara 1446
– 1471 AD Muslim Champa warga yang melarikan diri
ke nusantara karena Champa ditaklukkan oleh kerajaan Vietnam.

Hubungan pernikahan antar bangsa
itu juga terjadi. Seperti misalnya pernikahan antara Raja Jayasingawarman
III (Singasari) dan Ratu Tapasi, lalu Sri Kertawijaya (Majapahit) dan anak perempuannya
Champa bernama Dwarawati yang beragama Islam. Yang terakhir adalah bibi
dari Ali Rahmatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel.

Diceritakan Putri itu
Dwarawati sengaja menyarankan kepada suaminya untuk mengundang saudara iparnya, Syekh
Ibrahim As-Samarqandi (ayah Sunan Ampel), untuk membimbing masyarakat Majapahit
siapa muslim. Kemudian diteruskan oleh kedua anaknya, Ali Rahmatullah
dan Ali Murtadlo. Ali Rahmatullah kemudian diangkat sebagai imam di Surabaya,
sementara saudaranya menjadi Pandhita di Gresik.

Berasal dari keluarga asal
Champa ini menyebarkan penyebaran Islam di wilayah Majapahit khususnya
setelah putra, menantu, kerabat, dan siswa dari dua tokoh
saudara-saudara mengabar secara sistematis melalui jaringan & # 39; & # 39; dari da & # 39; wah
disebut "Wali Songo". Menurut perkiraan, ini dibentuk di tengah
1470-an. Islam cenderung berkembang pesat di era Wali Songo ini. Kapan
Ajaran Islam ala Wali Songo ini diyakini masih diusung oleh organisasi Islam
Nahdhatul Ulama.

Cina

Terkadang kita lupa, itu pengaruh
Cina di kepulauan ini justru terkait erat dengan Islam. orang Cina
yang datang dan menetap di kepulauan itu kebanyakan adalah orang Cina Muslim. Bahkan di abad ke-9
diketahui ada lebih banyak komunitas Tionghoa daripada komunitas Arab.
Tidak mengherankan, orang-orang di kepulauan itu diperkirakan telah berinteraksi dengan Yunnan sejak itu
1000 SM.

Pengaruh Islam dari Tiongkok
yang tidak boleh dilewatkan adalah kunjungan Laksamana Cheng Ho yang dimulai pada tahun itu
1405 M. Dia berlayar dalam konteks hubungan diplomatik, perdagangan,
serta propaganda. 1405 M, ketika di Jawa, Laksamana Cheng Ho ditemukan
Komunitas Muslim Cina di Tuban, Gresik, dan Surabaya dengan
setiap kerusakan berjumlah hingga seribu keluarga. Laksmana Cheng Ho juga sering
letakkan duta besar Muslimnya di daerah di mana ada komunitas musilm
di luar negeri Duta besar ini menjadi semacam perwakilan kekaisaran Cina di wilayah tersebut
itu.

Selain hubungan diplomatik,
Laksamana Cheng Ho juga membantu dalam pemberantasan pemberontak dan bajak laut
Kepulauan. Direkam pada 1407 M, Laksamana Cheng Ho berhenti di Palembang,
menghancurkan bajak laut Hokkien dan membentuk komunitas Muslim Cina. Di
pada tahun yang sama, komunitas Muslim Cina juga dibentuk di Sambas. Damar
Shasanga dalam bukunya, Kata Palon II, juga mengatakan bahwa Cheng Ho
membantu Majapahit memadamkan kerusuhan di Tuban. Di Tuban, dia kemudian
menempatkan duta besar Muslimnya bernama Gan Eng Cu untuk memimpin komunitas Muslim
Cina di wilayah Majapahit. Raja Majapahit pada waktu itu juga sudah mapan
perjanjian dengan kekaisaran Cina untuk memberikan perlindungan
komunitas-komunitas ini.

Selain itu, ada juga teori
mengatakan bahwa beberapa Penjaga Songo adalah darah Cina, termasuk orang tua
wali Sunan Ampel, Sunan Bonang Anak Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga. Masalah ini
berdasarkan dokumen sejarah kronis Tiongkok dari kuil Sam Po Kong. Sunan
Nama asli Ampel adalah Bong Swi Hoo dan Sunan Kalijaga bernama Gan Si Cang. Selain
itu adalah tokoh terkenal lainnya, Raden Arya Damar, putra raja Majapahit
Wikramawardana, yang menjadi penguasa Palembang, juga memiliki darah Tionghoa, yang nama aslinya adalah
Swan Liong.

Meski tidak memungkiri, sejarah
terkait dengan Wali Songo, keturunan komunitas Cina, masih diperdebatkan sampai sekarang.
Mayoritas sejarawan mengatakan bahwa bukti terkuat menunjukkan para pemimpin agama
(wali) memang generasi awal bukan dari Jawa melainkan Persia dan Champa. Jika
Champa disepakati sebagai wilayah Cina Selatan pada waktu itu, teori di atas
sepertinya tidak masalah.

Wali Songo yang dipanggil dengan nama Cina dalam dokumen Kronik Cina dapat dikatakan sebagai "Rakyat Angin" yang menjadi bangsawan pada masanya. Namun apa pun itu masih menunjukkan bahwa orang-orang Cina memang memiliki peran besar dalam perkembangan sejarah Islam di nusantara.

Sumber Foto: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Pos People Over the Wind dan Masuknya Islam muncul pertama kali di Budaya Indonesia.